Sambut Ramadhan, Warga Tangerang Keramas Bareng
wantmag.com – Menjelang bulan suci Ramadhan, suasana bantaran Sungai Cisadane di Kelurahan Babakan tampak lebih ramai dari biasanya. Ratusan warga berkumpul sejak pagi dengan membawa perlengkapan mandi. Mereka tidak sekadar mandi bersama. Mereka menjalankan tradisi keramas bareng yang telah diwariskan lintas generasi.
Tradisi ini rutin digelar warga RW 01 dan RW 02 Kelurahan Babakan, Kota Tangerang. Anak-anak, remaja, hingga orang tua ikut ambil bagian. Mereka berbaur tanpa sekat usia dan latar belakang. Sungai Cisadane menjadi saksi kebersamaan yang terus dijaga.
Keramas bareng sudah berlangsung selama puluhan tahun. Warga setempat mempertahankan tradisi ini sebagai bagian dari identitas kampung. Kegiatan tersebut dilakukan beberapa hari sebelum Ramadhan tiba. Momentum itu dianggap tepat untuk mempersiapkan diri secara fisik dan spiritual.
Menurut keterangan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang, tradisi ini memiliki makna simbolik. Warga memaknainya sebagai upaya membersihkan diri sebelum menjalankan ibadah puasa. Tidak hanya membersihkan rambut dan tubuh. Mereka juga berniat menyucikan hati dari kesalahan.
Perwakilan dinas menyebut kegiatan ini sebagai warisan budaya tak benda tingkat lokal. Tradisi tersebut mencerminkan nilai gotong royong dan solidaritas sosial. Pemerintah kota mendukung pelestarian tradisi selama tetap menjaga kebersihan sungai. Edukasi tentang lingkungan juga disampaikan kepada peserta.
Keramas bareng bukan sekadar aktivitas fisik. Usai berkeramas, warga saling berjabat tangan dan bermaaf-maafan. Mereka mengucapkan doa agar diberi kesehatan selama Ramadhan. Suasana hangat terasa di sepanjang bantaran sungai.
Seorang tokoh masyarakat Babakan menjelaskan makna tradisi ini. “Kami ingin masuk Ramadhan dengan hati bersih. Tradisi ini mengingatkan kami untuk saling memaafkan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kebersamaan menjadi kekuatan utama warga.
Kegiatan dimulai dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat. Setelah itu, warga turun ke sungai secara tertib. Panitia lokal mengatur jalannya kegiatan agar tetap aman. Mereka juga mengingatkan peserta untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Baca juga: “Menag Dorong Masjid Siap Menjadi Tempat Aman Pemudik”
Sungai Cisadane sendiri memiliki nilai historis bagi Kota Tangerang. Sungai ini menjadi sumber kehidupan dan jalur transportasi sejak masa lampau. Keberadaannya membentuk pola permukiman dan budaya masyarakat sekitar. Tradisi keramas bareng menjadi salah satu ekspresi budaya yang lahir dari kedekatan itu.
Dalam beberapa tahun terakhir, partisipasi warga cenderung stabil. Generasi muda tetap dilibatkan agar tradisi tidak terputus. Orang tua mengajarkan makna simbolik di balik kegiatan tersebut. Mereka menekankan pentingnya menjaga etika dan kebersihan.
Keramas bareng juga menjadi ruang interaksi sosial yang efektif. Warga yang jarang bertemu dapat saling menyapa kembali. Anak-anak belajar tentang nilai kebersamaan secara langsung. Momen ini memperkuat kohesi sosial di tingkat lingkungan.
Dari sisi keagamaan, tradisi ini tidak bersifat ritual wajib. Tokoh agama setempat menegaskan bahwa keramas bareng adalah tradisi budaya. Ibadah puasa tetap sah tanpa mengikuti kegiatan ini. Namun tradisi tersebut dianggap sebagai sarana memperbaiki hubungan sosial.
Kegiatan ini juga memberi dampak ekonomi kecil bagi warga sekitar. Pedagang makanan dan minuman memanfaatkan keramaian. Mereka menjual jajanan tradisional di sekitar lokasi. Aktivitas itu menambah semarak suasana menjelang Ramadhan.
Pemerintah kota mengimbau agar tradisi dilakukan secara bijak. Aspek keselamatan dan kelestarian lingkungan menjadi prioritas. Warga diingatkan untuk tidak menggunakan bahan kimia berlebihan di sungai. Edukasi ini penting untuk menjaga kualitas air Cisadane.
Di tengah arus modernisasi, tradisi lokal sering tergerus perubahan gaya hidup. Namun warga Babakan memilih mempertahankan warisan leluhur. Mereka menyesuaikan pelaksanaan dengan kondisi zaman. Nilai inti tetap dipertahankan.
Keramas bareng di Cisadane menjadi simbol kesiapan menyambut bulan suci. Warga membersihkan diri sambil mempererat silaturahmi. Mereka mengawali Ramadhan dengan semangat kebersamaan. Tradisi ini mengajarkan pentingnya harmoni sosial.
Pada akhirnya, kekuatan sebuah komunitas terletak pada solidaritasnya. Warga Babakan menunjukkan bahwa budaya dapat menjadi perekat sosial. Ramadhan bukan hanya momentum ibadah personal. Ramadhan juga menjadi ruang memperkuat hubungan antarwarga.
Tradisi keramas bareng membuktikan nilai gotong royong tetap hidup di Kota Tangerang. Selama dijaga dengan bijak, warisan ini akan terus bertahan. Generasi berikutnya diharapkan memahami maknanya secara utuh. Dengan demikian, Ramadhan selalu disambut dengan hati yang bersih dan penuh harapan.
Baca juga: “Sambut Ramadhan, Pengungsi Gaza Sulap Kardus Bantuan Jadi Lentera untuk Anak-anak”