RI Siapkan Storage Baru Demi Target Cadangan BBM
wantmag.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengakui kapasitas penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia masih terbatas. Kondisi ini membuat upaya pemerintah menambah cadangan nasional belum bisa berjalan optimal.
Saat ini, daya tampung BBM di Indonesia hanya mampu menahan pasokan selama sekitar 25 hari. Oleh karena itu, stok aman yang dijaga pemerintah biasanya berada di kisaran 20 hingga 23 hari.
“Saya sampaikan bahwa kemampuan daya tampung BBM kita sudah sejak lama hanya maksimal 25 hari, maksimal. Jadi cadangan nasional kita minimal 20 sampai 23 hari,” jelas Bahlil.
Target Cadangan BBM Tiga Bulan Memerlukan Infrastruktur Memadai
Pemerintah menargetkan cadangan BBM nasional dapat diperbesar hingga cukup untuk tiga bulan. Namun, Bahlil menegaskan, target ini tidak bisa tercapai jika fasilitas penyimpanan belum memadai.
Menurutnya, persoalan utama bukan pada ketersediaan minyak, melainkan kapasitas tempat penyimpanan. “Bukan kita tidak punya cadangan untuk mengisi minyak, tapi sekarang mau taruh di mana? Storage kita belum memadai,” tegasnya.
Saat ini, Indonesia memiliki beberapa terminal dan tangki penyimpanan BBM, tetapi sebagian besar kapasitasnya terbatas dan berlokasi di Pulau Jawa. Kondisi ini membuat distribusi cadangan ke daerah lain terkadang kurang optimal.
Percepatan Pembangunan Storage Baru Jadi Prioritas
Arahan dari Presiden telah jelas, yakni mempercepat pembangunan storage baru untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Proyek ini menjadi prioritas agar cadangan BBM dapat meningkat sesuai target tiga bulan.
Bahlil menambahkan, salah satu lokasi potensial pembangunan storage baru berada di Sumatera. Pemerintah kini mematangkan rencana teknis dan langkah lanjutan agar proyek bisa segera direalisasikan.
“Langkah pembangunan storage baru akan menyesuaikan kebutuhan cadangan dan distribusi energi di seluruh wilayah,” ujar Bahlil.
Konteks Cadangan BBM dan Ketahanan Energi Indonesia
Saat ini, cadangan BBM di Indonesia memang tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Contohnya, Singapura mampu menjaga cadangan BBM hingga lebih dari 90 hari, sementara Indonesia baru sekitar 20–25 hari.
Ahli energi menyatakan, memperbesar cadangan BBM bukan sekadar menumpuk stok, tetapi juga memperkuat ketahanan nasional. Cadangan yang memadai bisa menghadapi gangguan pasokan akibat bencana alam, geopolitik, atau fluktuasi harga minyak dunia.
Selain pembangunan storage, pemerintah juga meninjau penggunaan teknologi modern seperti tangki modular dan terminal minyak terapung untuk meningkatkan fleksibilitas penyimpanan. Langkah ini dipandang efisien, terutama untuk wilayah yang sulit dijangkau distribusi darat.
Tantangan dan Strategi Pemerintah
Pembangunan storage baru menghadapi sejumlah tantangan, termasuk biaya investasi besar dan lokasi yang strategis. Namun, pemerintah menekankan bahwa percepatan proyek ini sejalan dengan kebijakan ketahanan energi jangka panjang.
Selain menambah kapasitas, pemerintah juga berencana meningkatkan efisiensi distribusi BBM. Integrasi sistem logistik nasional dengan penyimpanan yang memadai akan memastikan pasokan tetap stabil ke seluruh wilayah.
Dengan adanya rencana pembangunan storage baru, Indonesia berpeluang meningkatkan cadangan BBM hingga tiga bulan. Hal ini akan memberi fleksibilitas dalam menghadapi fluktuasi pasokan minyak global.
Ahli energi menilai, percepatan proyek ini dapat memperkuat posisi Indonesia dalam ketahanan energi regional. Peningkatan cadangan BBM juga mendukung stabilitas harga domestik dan memastikan kebutuhan energi masyarakat terpenuhi.
Dengan komitmen pemerintah memperluas kapasitas penyimpanan, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk menghadapi tantangan energi masa depan. Proyek storage baru akan menjadi fondasi penting bagi strategi ketahanan energi nasional.