Akademisi Kotim
wantmag.com – Seorang akademisi asal Kabupaten Kotawaringin Timur mendorong langkah tegas pemerintah pusat.
Ia meminta Kementerian Komunikasi dan Digital memblokir game online rawan radikalisme.
Desakan ini muncul setelah dua pelajar sekolah dasar terindikasi terpapar paham radikal.
Akademisi tersebut adalah Tasrifinoor dari STIH Habaring Hurung, Sampit.
Ia menilai dunia digital kini menjadi jalur utama penyebaran ideologi berbahaya.
Anak-anak dianggap rentan karena belum memiliki kemampuan literasi digital memadai.
Tasrifinoor menyebut pola penyebaran paham radikal bersifat terstruktur.
Ia menggambarkannya seperti piramida kebijakan dan pengguna.
Pembuat platform berada di puncak, sementara pengguna hanya mengikuti.
“Komdigi harusnya bisa menghapus game online atau situs tersebut,” ujar Tasrifinoor.
Ia menyampaikan pernyataan itu di Sampit, Rabu.
Menurutnya, tanggung jawab pengawasan berada pada pemerintah pusat.
Baca juga: “Atalia Menghadiri Sidang Perceraian di PA Bandung”
Peran Komdigi dalam Pengawasan Konten Digital
Tasrifinoor menekankan pentingnya pengawasan ketat oleh Komdigi.
Ia meminta kementerian bergerak cepat dan selektif.
Langkah ini dinilai penting untuk menekan arus radikalisme digital.
Ia menilai pemblokiran platform bermasalah dapat mencegah paparan lanjutan.
Masyarakat, khususnya pelajar, dianggap hanya sebagai pengguna pasif.
Karena itu, kontrol utama harus berada pada regulator.
“Kementerian Komdigi harus menghapus situs atau game online seperti itu,” tegasnya.
Ia menilai keterlambatan tindakan dapat memperluas dampak.
Radikalisme digital dinilai berbahaya karena menyasar usia dini.
Pembatasan Gadget bagi Anak Usia Sekolah
Selain pemblokiran aplikasi, Tasrifinoor menyoroti penggunaan gawai oleh anak.
Ia mendukung rencana pembatasan gadget bagi anak di bawah umur.
Langkah ini dinilai efektif mengurangi paparan konten negatif.
Tasrifinoor mendorong sekolah menerapkan aturan tegas.
Ia menyarankan larangan membawa telepon seluler ke sekolah.
Aturan ini berlaku mulai tingkat SD hingga SMA.
Menurutnya, lingkungan sekolah harus menjadi ruang aman bagi anak.
Pembatasan gadget dapat meningkatkan fokus belajar.
Kebijakan ini juga dinilai memperkecil risiko paparan radikalisme.
Respons Pemkab Kotim dan Langkah Pembinaan
Menanggapi temuan tersebut, Pemerintah Kabupaten Kotim bergerak cepat.
Wakil Bupati Kotim, Irawati, menyampaikan langkah penanganan awal.
Pemkab langsung melakukan pembinaan intensif terhadap dua pelajar tersebut.
Saat ini, kedua anak berada dalam pengawasan ketat.
Pengawasan dilakukan oleh DP3AP2KB dan Bidang PPA Polres Kotim.
Langkah ini bertujuan memastikan pemulihan psikologis anak.
Irawati menyebut pemantauan dilakukan secara berkala.
Ia menegaskan kondisi di Kotim masih dapat dikendalikan.
Pembinaan dianggap berjalan sesuai harapan.
“Syukurnya yang di Kotim masih bisa dikontrol,” ujar Irawati.
Ia menekankan pentingnya pencegahan sejak dini.
Keterlibatan Densus 88 dan Keluarga
Sebelumnya, tim Densus 88 telah turun ke lapangan.
Mereka menyambangi kediaman anak-anak yang terindikasi.
ASN yang terpapar juga turut didatangi.
Densus 88 memberikan pemahaman kepada keluarga.
Materi mencakup bahaya radikalisme dan cara menghindarinya.
Pendekatan persuasif dipilih untuk mencegah trauma.
Keterlibatan keluarga dinilai sangat penting.
Orang tua menjadi garda terdepan pengawasan anak.
Lingkungan rumah harus mendukung nilai toleransi.
Rencana Instruksi Bupati dan Penyuluhan
Irawati mengaku akan mengusulkan kebijakan lanjutan.
Ia berencana mengajukan Instruksi Bupati Kotim.
Instruksi tersebut mengatur pembatasan gadget bagi anak sekolah.
Kebijakan ini mencontoh langkah serupa di Surabaya.
Pemkab menilai kebijakan tersebut efektif.
Implementasi akan disesuaikan dengan kondisi daerah.
Selain itu, pemkab merencanakan kegiatan penyuluhan.
Penyuluhan melibatkan berbagai instansi terkait.
Densus 88 akan dihadirkan sebagai narasumber.
Kegiatan ini menyasar sekolah dan instansi pemerintah.
Sektor swasta juga akan dilibatkan.
Tujuannya meningkatkan kesadaran bahaya radikalisme digital.
Pola Rekrutmen Radikal di Dunia Digital
Densus 88 memastikan aplikasi mencurigakan terus dipantau.
Pemantauan dilakukan secara nasional.
Kotawaringin Timur menjadi salah satu titik perhatian.
Kelompok radikal kini menyasar dunia digital.
Anak-anak menjadi target karena intensitas penggunaan internet.
Game online menjadi salah satu media rekrutmen.
Salah satu platform yang disorot adalah Roblox.
Platform ini populer di kalangan anak-anak.
Pengawasan konten dinilai perlu diperkuat.
Pencegahan Terpadu Jadi Kunci
Kasus di Kotim menjadi peringatan penting.
Radikalisme digital dapat menyasar usia sangat muda.
Pencegahan harus dilakukan secara terpadu.
Peran pemerintah, sekolah, dan keluarga sangat krusial.
Pemblokiran konten berbahaya perlu diimbangi edukasi.
Literasi digital menjadi kunci jangka panjang.
Langkah cepat diharapkan mencegah kasus serupa.
Keamanan anak di ruang digital harus menjadi prioritas nasional.
Baca juga: “BNPT Akan Awasi Ruang Digital Anak-Game Online Cegah Radikalisme”