Rusia
wantmag.com – Rusia kembali menegaskan sikap tegas menolak segala bentuk kemerdekaan Taiwan.
Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Asia Timur.
Moskow menyatakan dukungan penuh kepada China dalam menjaga kedaulatan wilayahnya.
Sikap tersebut menegaskan konsistensi kebijakan luar negeri Rusia terhadap isu Taiwan.
Pemerintah Rusia menyebut posisi ini tidak berubah dan telah ditegaskan berulang kali.
Pernyataan resmi tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.
Lavrov berbicara kepada kantor berita TASS dalam wawancara yang disiarkan pada Ahad.
Ia menegaskan Rusia tetap berpegang pada kebijakan “satu China”.
Kebijakan ini menjadi dasar hubungan diplomatik Rusia dan China selama beberapa dekade.
Baca juga: “One Day Promotion Dorong Penjualan 836 Ribu Ton Pupuk Kaltim”
Pernyataan Resmi Sergey Lavrov soal Taiwan
Sergey Lavrov menyatakan Rusia mengakui Taiwan sebagai bagian integral dari China.
Ia menegaskan Moskow menentang segala bentuk kemerdekaan bagi pulau tersebut.
Lavrov menyebut posisi Rusia telah ditegaskan di tingkat tertinggi pemerintahan.
Menurutnya, tidak ada ambiguitas dalam kebijakan Rusia terkait Taiwan.
“Rusia mengakui Taiwan sebagai bagian integral dari China,” kata Lavrov.
Ia menambahkan bahwa isu Taiwan merupakan urusan internal Republik Rakyat China.
Rusia, menurut Lavrov, menghormati prinsip kedaulatan dan non-intervensi.
Prinsip tersebut menjadi fondasi utama hukum internasional modern.
Lavrov menilai China memiliki dasar hukum sah mempertahankan integritas teritorialnya.
Ia menyebut setiap upaya mengganggu kedaulatan China berpotensi memicu instabilitas.
Rusia menyatakan dukungan terhadap langkah Beijing menjaga persatuan nasional.
Dukungan Rusia dalam Konteks Ketegangan Selat Taiwan
Lavrov juga menyinggung situasi keamanan di Selat Taiwan.
Selat ini memisahkan daratan China dengan pulau Taiwan.
Wilayah tersebut menjadi titik sensitif dalam dinamika keamanan Asia Timur.
Rusia menyatakan akan mendukung China jika ketegangan meningkat.
Lavrov menekankan pentingnya penyelesaian damai tanpa campur tangan eksternal.
Ia menilai eskalasi konflik hanya akan merugikan stabilitas kawasan.
Lavrov merujuk pada perjanjian persahabatan Rusia–China.
Perjanjian tersebut ditandatangani pada 2001 dan diperpanjang pada 2021.
Kesepakatan ini berlaku selama lima tahun ke depan.
Dokumen tersebut menegaskan kerja sama strategis kedua negara.
Perjanjian itu mencakup komitmen saling mendukung kepentingan inti.
Isu kedaulatan dan integritas wilayah termasuk dalam kepentingan inti tersebut.
Rusia menilai kerja sama ini penting menghadapi tekanan geopolitik global.
Kritik Rusia terhadap Kebijakan Keamanan Jepang
Dalam pernyataan yang sama, Lavrov mengkritik kebijakan keamanan Jepang.
Ia menilai Tokyo menempuh jalur militerisasi yang semakin cepat.
Menurutnya, langkah tersebut berisiko mengganggu stabilitas regional.
Lavrov menyebut dampak kebijakan Jepang sudah terlihat jelas.
Ia memperingatkan bahwa pendekatan militer dapat memicu ketegangan baru.
“Jepang sebaiknya mempertimbangkan situasi secara matang,” ujar Lavrov.
Rusia menilai peningkatan anggaran militer Jepang memicu kekhawatiran regional.
Kawasan Asia Timur memiliki sejarah konflik yang kompleks.
Setiap langkah militer dinilai berpotensi menimbulkan reaksi berantai.
Latar Belakang Ketegangan Jepang, China, dan Taiwan
Pernyataan Lavrov muncul di tengah ketegangan Beijing dan Tokyo.
Ketegangan meningkat sejak pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi.
Pada 7 November, Takaichi menyinggung potensi konflik di Selat Taiwan.
Ia menyebut serangan terhadap Taiwan dapat mengancam kelangsungan hidup Jepang.
Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari pemerintah China.
Beijing menilai komentar itu mencampuri urusan internal China.
China kemudian mengeluarkan sejumlah langkah balasan diplomatik.
Langkah tersebut termasuk imbauan pembatasan perjalanan ke Jepang.
Beijing juga memberlakukan kembali larangan impor makanan laut Jepang.
Media Jepang melaporkan perkembangan penting lainnya.
Kabinet Jepang menyetujui rancangan anggaran pertahanan terbesar sepanjang sejarah.
Nilainya mencapai 9,04 triliun yen untuk tahun fiskal 2026.
Anggaran tersebut setara sekitar 58 miliar dolar Amerika Serikat.
Langkah ini kembali menuai kritik dari China.
Beijing menilai peningkatan anggaran militer Jepang mengancam stabilitas kawasan.
Rusia memandang perkembangan ini sebagai faktor tambahan ketegangan regional.
Implikasi Geopolitik dan Sikap Rusia ke Depan
Sikap Rusia mencerminkan kedekatan strategis dengan China.
Kedua negara semakin sering menyuarakan posisi serupa di forum internasional.
Isu Taiwan menjadi salah satu titik temu kepentingan mereka.
Rusia menilai stabilitas Asia Timur penting bagi keamanan global.
Moskow mendorong penyelesaian konflik melalui dialog dan diplomasi.
Namun, Rusia menegaskan dukungan terhadap kedaulatan China tidak akan berubah.
Ke depan, posisi Rusia diperkirakan tetap konsisten.
Moskow akan terus mendukung kebijakan satu China.
Rusia juga akan mengkritik langkah militer yang dinilai provokatif.
Pernyataan Lavrov menegaskan arah kebijakan luar negeri Rusia.
Sikap ini sekaligus menambah dinamika geopolitik di kawasan Asia Timur.
Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada respons negara-negara terkait.
Baca juga: “Menlu Lavrov Sebut Rusia Siap Bantu China Menghancurkan Taiwan”