Asupan Gizi Tepat Cegah Anemia Defisiensi Besi
wantmag.com – Dokter spesialis gizi klinik, Dr. dr. Luciana Sutanto, MS, SpGK (K), menegaskan pentingnya asupan gizi seimbang.
Ia menilai perhatian gizi menjadi kunci pencegahan anemia defisiensi besi.
Pernyataan tersebut disampaikan Luciana dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Kamis.
Ia menyoroti tingginya angka anemia di Indonesia hingga saat ini.
Menurut Luciana, anemia defisiensi besi termasuk anemia gizi.
Kondisi ini sangat berkaitan dengan kekurangan asupan zat gizi esensial.
“Kenyataannya kita masih mendapati anemia di Indonesia sangat tinggi,” kata Luciana.
Ia menegaskan anemia kekurangan zat besi masih mendominasi kasus anemia nasional.
Luciana menilai pencegahan harus dilakukan sejak awal kehidupan.
Fokus utama diarahkan pada 1.000 hari pertama kehidupan.
Periode 1.000 hari pertama kehidupan dimulai sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Fase ini menjadi fondasi utama tumbuh kembang manusia.
Luciana menekankan bahwa kekurangan gizi pada fase ini berdampak jangka panjang.
Risiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan kognitif dapat meningkat.
“Ini harus disikapi dengan pencegahan,” ujar Luciana.
Ia menekankan peran gizi dalam menjaga kesehatan ibu dan anak.
Baca juga: “Kemenkes Kirim 366 Nakes Relawan ke Aceh”
Asupan zat besi yang cukup selama kehamilan sangat penting.
Kekurangan zat besi dapat meningkatkan risiko anemia pada ibu hamil.
Anemia pada ibu hamil berpotensi memengaruhi kesehatan janin.
Risiko bayi lahir dengan berat badan rendah juga meningkat.
Luciana menilai perhatian gizi tidak boleh dimulai saat kehamilan saja.
Persiapan kesehatan sebaiknya dilakukan sejak masa remaja.
Remaja putri menjadi kelompok penting dalam pencegahan anemia.
Mereka perlu memahami kebutuhan gizi sejak dini.
“Sebelum itu, perempuan yang akan hamil harus dipersiapkan kesehatannya,” ujar Luciana.
Ia menekankan kesiapan fisik sebelum memasuki masa kehamilan.
Kehamilan yang terjadi tanpa persiapan gizi akan meningkatkan risiko.
Upaya menjaga kesehatan menjadi lebih kompleks dan menantang.
Edukasi gizi bagi remaja dinilai sangat krusial.
Pemahaman ini akan membantu memutus siklus anemia antar generasi.
Luciana menyebut gizi sebagai aspek penting dalam menjaga kualitas hidup.
Gizi mendukung pertumbuhan, daya tahan tubuh, dan fungsi organ.
Pemenuhan gizi yang baik berperan mencegah berbagai penyakit.
Anemia menjadi salah satu kondisi yang dapat dicegah.
Ia menegaskan pentingnya keseimbangan asupan nutrisi harian.
Kebutuhan gizi setiap kelompok usia berbeda.
Ibu hamil, anak-anak, dan remaja memiliki kebutuhan khusus.
Pemenuhan zat besi menjadi salah satu prioritas.
Sebagai Presiden Indonesian Nutrition Association, Luciana mengingatkan pentingnya literasi gizi.
Ia menilai masyarakat perlu lebih selektif menyerap informasi.
Saat ini, informasi pola makan sangat mudah diakses.
Namun, tidak semua informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
Luciana menyarankan masyarakat mengacu pada Pedoman Gizi Seimbang.
Pedoman tersebut dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan.
Pedoman gizi tersebut mengatur kebutuhan nutrisi berbagai kelompok.
Termasuk ibu hamil, perempuan dewasa, dan anak-anak.
“Marilah kita mengacu kepada pedoman makan yang sehat ini,” kata Luciana.
Ia mengajak masyarakat aktif menyosialisasikan pedoman tersebut.
Luciana menekankan pentingnya memilih makanan kaya zat besi.
Zat besi berperan dalam pembentukan sel darah merah.
Sumber zat besi hewani memiliki tingkat penyerapan tinggi.
Contohnya hati ayam dan daging merah.
Makanan tersebut telah lama dikenal kaya zat besi.
Konsumsi teratur dapat membantu mencegah anemia.
Namun, perubahan gaya hidup memengaruhi pola makan masyarakat.
Tidak semua orang rutin mengonsumsi sumber zat besi hewani.
Luciana menilai makanan komersial fortifikasi dapat menjadi alternatif.
Produk ini telah diperkaya zat besi.
Pangan fortifikasi dinilai praktis bagi masyarakat modern.
Namun, pemilihan produk tetap harus dilakukan secara cermat.
Masyarakat perlu membaca label dan kandungan gizi.
Fortifikasi tidak boleh menggantikan pola makan seimbang.
Selain zat besi, vitamin pendukung juga penting.
Vitamin C berperan meningkatkan penyerapan zat besi.
Luciana menyarankan mengombinasikan sumber zat besi dengan vitamin C.
Misalnya mengonsumsi buah saat makan makanan kaya zat besi.
Anemia defisiensi besi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Pencegahan membutuhkan pendekatan lintas sektor.
Edukasi gizi perlu diperkuat di berbagai tingkatan.
Mulai dari keluarga, sekolah, hingga fasilitas kesehatan.
Luciana berharap kesadaran gizi terus meningkat.
Pencegahan sejak dini akan memberi dampak besar.
Perbaikan asupan gizi dinilai sebagai investasi jangka panjang.
Generasi sehat akan menentukan masa depan bangsa.
Dengan pola makan seimbang, anemia dapat dicegah.
Upaya ini membutuhkan komitmen bersama dan berkelanjutan.
Baca juga: “Dokter UI: Kesadaran Orang Tua Kunci Gizi Seimbang Anak”