Marsma TNI Fajar Adriyanto
Marsma TNI Fajar Adriyanto yang Gugur dalam Kecelakaan Pesawat
wantmag.com – Marsma TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Marsma TNI Fajar Adriyanto. Fajar, mantan Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau), meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat yang terjadi baru-baru ini. Dalam pernyataannya, Maruli mengenang Fajar sebagai figur sentral di keluarga besar dirgantara Indonesia.
“Beliau sangat antusias membentuk dan memperkuat komunitas dirgantara. Sosoknya jadi figur penting di lingkungan kami,” ujar Maruli kepada awak media pada Minggu, 3 Agustus 2025. Ia mengaku kerap berdiskusi secara intens dengan Fajar mengenai isu-isu strategis di dunia kedirgantaraan.
Sejak bertugas di Jakarta, keduanya sering bertemu dan menjalin hubungan yang erat di luar kedinasan. “Kami teman baik. Sering berbincang, berdiskusi, dan berbagi cerita tentang dunia dirgantara. Banyak waktu yang kami habiskan bersama,” kenang Maruli.
Fajar Adriyanto dikenal luas di lingkungan TNI AU sebagai perwira berdedikasi tinggi. Ia aktif mengembangkan komunikasi militer yang terbuka dan humanis, terutama saat menjabat Kadispenau. Perannya dianggap penting dalam membangun citra positif TNI AU di tengah masyarakat.
“Simak Juga: Pemanfaatan Teknologi Video Advertising untuk Bisnis Internasional” [5]
Harapan dan Doa untuk Keluarga yang Ditinggalkan
Maruli Simanjuntak juga menyampaikan empati yang mendalam kepada keluarga besar almarhum Fajar Adriyanto. Ia berharap keluarga diberi kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini. “Saya doakan keluarga yang ditinggalkan diberikan keteguhan hati dan selalu dalam lindungan Tuhan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa insiden ini menjadi pengingat penting bagi seluruh prajurit TNI. Menurutnya, setiap aktivitas militer harus selalu mengutamakan keselamatan dan kewaspadaan tinggi. “Kita harus belajar dari kejadian ini agar tidak terulang,” tegas Maruli.
Sementara itu, suasana duka menyelimuti rumah duka almarhum di Probolinggo, Jawa Timur. Rekan-rekan seangkatan, tokoh militer, dan warga sekitar hadir memberikan penghormatan terakhir. Kehilangan Marsma Fajar menjadi duka bagi institusi TNI AU dan komunitas dirgantara secara luas.
Fajar Adriyanto tidak hanya dikenang sebagai perwira TNI yang loyal dan cerdas, tapi juga sebagai pribadi yang ramah, terbuka, dan menginspirasi. Wafatnya menjadi kehilangan besar bagi keluarga, rekan sejawat, dan bangsa.
Kronologi Jatuhnya Pesawat FASI yang Dikemudikan Marsma TNI Fajar Adriyanto
Marsma TNI Fajar Adriyanto meninggal dunia saat menerbangkan pesawat latih milik Federasi Aerosport Seluruh Indonesia (FASI). Insiden terjadi pada Sabtu pagi, 3 Agustus 2025, di kawasan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Perwira tinggi TNI AU itu menjadi pilot dari pesawat jenis Microlight Fixed Wing Quicksilver GT500 dengan nomor register PK-S126.
Pesawat diketahui lepas landas dari Landasan Udara (Lanud) Atang Sendjaja, Bogor, pada pukul 09.08 WIB. Namun, hanya dalam waktu kurang dari 15 menit, pesawat kehilangan kontak. Pukul 09.18 WIB, pesawat dinyatakan hilang sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi jatuh di area persawahan. Pencarian dilakukan secara cepat oleh tim gabungan dari TNI AU, Basarnas, dan relawan setempat.
Kecelakaan tersebut langsung menjadi perhatian karena melibatkan figur penting dalam dunia dirgantara Indonesia. Marsma Fajar diketahui aktif dalam berbagai kegiatan pelatihan dan promosi olahraga dirgantara, baik sipil maupun militer. Sebagai perwira senior, ia juga tercatat menjabat sebagai salah satu pembina di FASI.
Insiden Penerbangan Jadi Pengingat Penting bagi Komunitas Dirgantara
Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak turut menyampaikan keprihatinannya atas musibah ini. Ia berharap insiden ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh insan militer maupun komunitas penerbang sipil. “Mudah-mudahan ini bisa menjadi pembelajaran bagi kami dan teman-teman lain, supaya lebih hati-hati dalam kegiatan,” ujar Maruli.
Sebelum kecelakaan, komunikasi terakhir antara Marsma Fajar dengan tim pengawas penerbangan berlangsung selama sekitar 40 menit, menurut laporan Kadispen AU. Namun belum diketahui secara pasti penyebab teknis kecelakaan tersebut. Proses investigasi masih berjalan dan dilakukan oleh pihak terkait, termasuk TNI AU dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Pesawat Quicksilver GT500 sendiri dikenal sebagai jenis pesawat ringan dua kursi yang umum digunakan untuk pelatihan dan kegiatan olahraga dirgantara. Meski relatif aman, jenis pesawat ini tetap memerlukan kewaspadaan tinggi dalam pengoperasian, terutama di medan terbuka seperti pegunungan atau kawasan agraris.
Kematian Marsma Fajar meninggalkan duka mendalam, sekaligus menjadi momentum reflektif bagi pengelolaan keselamatan penerbangan di tingkat nasional. Ke depan, penguatan prosedur keamanan dan kesiapan teknis dalam setiap misi terbang akan menjadi agenda penting, tidak hanya di lingkungan militer, tetapi juga di komunitas dirgantara sipil.
“Baca Juga: Perencanaan Pembangunan PLTN Pertama Di Indonesia” [3]